KDE 4.2? Ndak dulu deh …
Setelah beberapa waktu lalu di milis ubuntu-id beredar kabar-kabar soal launching KDE 4.2, hari ini saya kembali teringat kira-kira setahun lalu waktu saya mulai migrasi ke Gnome. Waktu itu saya berpikir bahwa perkembangan KDE tidak begitu bagus, dan saya mulai bosan dengan style yang itu-itu saja, terlalu ramai, dan cenderung *windows banget* (yeah, buat saya tampilan dari desktop nomer satu dah). KDE 4.0 yang waktu itu diluncurkan pun terus terang mengecewakan saya, sementara di sisi lain Gnome dengan perkembangannya begitu menggiurkan untuk dicoba. Dan jika dilihat dari perkembangan sampai ke sekarang ini, berkembangnya engine-engine untuk GTK2 plus beberapa eyecandy yang cantik di Gnome makin menahan saya untuk kembali pulang ke KDE. Yah, sebut saja engine-engine sekelas clearlooks, murrine, dan nodoka, dipadukan dengan look-and-feel dari gnome-looks.org sebangsa shiki-brave, murrine-quiet, dan lain sebagainya … belum lagi Avant-window-navigator, gnome-do, plus aplikasi-aplikasi developmentku yang kadang make environment native gtk seperti Eclipse … duh, I think I’ve been drowned very deep …
Dan sekarang, KDE 4.2 sudah keluar … jujur saja besar sudah keinginan untuk melakukan migrasi kembali ke KDE, namun beberapa hal memberatkanku, beberapa di antaranya adalah :
- Saya malas untuk memigrasikan email-email dan calendar saya dari Evolution ke KMail. Resep dan ilmu-ilmu sudah ada, cuman malasnya itu lho … Pake Thunderbird aja? Wew, ndak dulu deh … one instance of Gecko engine playin’ on my memory is enough (wkwkwk, I’m talkin about pairing Firefox and Thunderbird, plus Sunbird if I need the calendar stuff)
- Beberapa aplikasi sepertinya belum siap tempur dengan library Qt4, jadi masih menggunakan tampilan KDE 3.* di atas KDE 4.*. Duh, nanti bakal ada banyak tipe tampilan berbeda kalo buka-buka aplikasi yang bhinneka tunggal kernel dunk, native KDE4, GTK2, Java (swing ya namanya), dan KDE3 … duh duh ..
- Belum ada saya melihat kegunaan dari sisi kinerja dan efektivitas dari bermacam-macam widget yang nempel di atas desktop KDE 4 itu. Seperti saya bilang, tampilan desktop nomor satu deh buat saya. Dan saya cenderung memilih tampilan minimalis. Bisa dilihat di beberapa postingan pameran desktop saya sebelumnya, saya jarang sekali menggunakan desktop eyecandy. Bahkan belakangan saya lebih memilih wallpaper yang memiliki warna-warna tidak terlalu bervariasi, daripada pemandangan yang cantik (manusia maupun alam, wkwkwk). After all, dari 24 jam berkelana menggunakan komputer, berapa lama sih desktop itu keliatan?
- Terakhir, soal kenyamanan. Sebagai seorang pekerja IT, kadang kenyamanan dan kemudahan melakukan aksi-aksi vital dalam bekerja menjadi kebutuhan saya. Gnome yang saya pegang sudah sangat nyaman dan membantu dalam melakukan aksi-aksi tersebut. So, it’s all about comfortability dude …
So, pertanyaannya adalah … kapankah saya kembali pulang ke KDE? Hmm … mungkin sebentar lagi, mungkin juga tidak akan. Sampai saat ini saya belum berpikir akan menginstal paket KDE di notbuk saya, karena itu akan lebih membuat saya tidak produktif (spent all my hours to ngulik2 KDE dan melamun membandingkan KDE dan Gnome), sehingga so far saya hanya akan ke repo sebelah dan mendownload OpenSUSE 11 … huehehehe, apakah saya malah tergoda sampai menyeberang ke OpenSuse?? Hihihihi …
Recent Comments