Disclaimer: Tulisan saya ini saya buat tidak untuk menjelek-jelekkan seluruh penonton dan fotografer di dunia ini, tetapi hanya kritik saya kepada beberapa penonton, 3 orang fotografer dan 1 orang non-fotografer-tapi-teman-fotografer-itu yang sudah berpartisipasi merusak kenikmatan saya nonton Jogja Mandiri Jazz 2008 … great guys, you made it perfectly!!!
Alkisah Sabtu malam kemarin (18/10/2008) saya menonton Jogja Mandiri Jazz 2008 di Grha Sabha Pramana UGM. Setelah membeli tiket dua minggu sebelum acara dimulai (yeah, dan saya terpaksa membeli kelas VIP karena kata mbak-mbak penjual tiket Festival sudah habis terjual, which is ternyata muncul lagi beberapa hari kemudian … !@#$%^), saya akhirnya berangkat ke lokasi.
Duduk di kursi VIP sebenarnya tidak begitu nyaman dan tidak menggambarkan bahwa lokasi itu adalah lokasi yang cukup menyenangkan untuk melihat pertunjukan. Kenapa? Karena posisinya di bawah dan tidak bertingkat, membuat orang-orang pendek seperti saya akan kesusahan melihat jika di depan duduk orang yang cukup tinggi.
Ah well, bukan itu yang ingin saya angkat sebenarnya di sini. Yang mau saya angkat adalah kekesalan saya pada komponen pendukung acara tersebut, yaitu para penontonnya. Mengapa saya kesal dengan para penonton? Karena tingkah laku penonton tersebut tidak menunjukkan mereka ingin melihat sebuah pertunjukkan. Banyak penonton datang terlambat ke lokasi. Baiklah, saya memaklumi keterlambatan sampai dengan 15 menit MC mulai berbicara. Tapi kalau kemudian para penonton itu terlambat sampai penampilan pertama sudah dimulai cukup lama dan kemudian ber-haha-hihi di lorong sambil pura-pura bingung siapa yang mau masuk duluan ke deretan kursi, ketawa-ketawa … itu sangat mengganggu tauk!!!! Saya sangat terganggu dengan segerombolan orang yang ketika Trisum sudah memainkan beberapa lagu, mereka datang seperti segerombolan orang dari satu RT, lengkap dengan anak-anak mereka. Mereka mendapatkan tiket festival, which is kursinya tidak ditentukan, so mereka bingung-bingung sendiri di lorong untuk rapat RT dulu menentukan mau duduk di mana tanpa memperdulikan orang-orang yang sudah kesal melihat kaki dan paha mereka di depan mata. Okay, dari keterlambatan saja, cobalah untuk menghargai para performer yang akan memainkan musik mereka, hargai juga orang-orang yang berada di belakang punggung kalian yang terbuka lebar ituh yang ingin menyaksikan para performer tersebut. Jangan datang terlambat dongggg … cobalah untuk datang lebih awal, tertib dan rapi begituhhh. Ya, saya memang harus memaklumi anda-anda yang sibuk (atau sok sibuk), namun jika terlambat, lakukanlah dengan terhormat dan tidak mengundang kekesalan orang-orang di sekitar anda.
Keheranan saya berikutnya adalah untuk sepasang suami istri yang membawa bayi mereka yang masih kecil dan mungil untuk menonton acara ini. Kenapa? Baik, untuk saya, suara tangis bayi sangat mengganggu jika saya tidak dalam mood bermain-main dengan bayi (ya, saya suka bayi tapi bayi yang tidak menangis dan lebih banyak tertawa *lol*). Bayangkan jika di tengah2 raungan gitar Trisum lalu si bayi ikutan meraung … kacaw dah suaranya. Nah untuk kebaikan si bayi itu juga, bayangkan suara dengan tingkat kebisingan yang sangat tinggi menendang gendang telinga si bayi yang masih sangat rapuh. Apa ndak kesian sama si bayi??? Dan benar, baru beberapa menit suami-istri tersebut duduk, si bayi menangis menjadi-jadi dan akhirnya mereka keluar (dan sepertinya menjual tiket mereka ke orang lain, karena beberapa menit kemudian yang duduk di kursi mereka orang lain).
Nah, berikutnya … sebuah fenomena yang sangatttttt membuat saya kesal adalah keberadaan 3 orang fotografer yang menyaru menjadi penonton dua baris di depan saya. Kenapa saya kesal? Bukan saya kesal karena mereka membawa kamera gede-gede lho, namun saya kesal karena mereka berlagak fotografer sementara posisi duduk mereka adalah sebagai penonton!!! Hey, anda-anda itu duduk di kursi penonton, jadi berlagaklah seperti penonton. Jangan kemudian mondar-mandir ke sana kemari dari kursi anda ke depan, lalu duduk lagi, trus geser kiri geser kanan trus duduk lagi. Ya! Apalagi teman mereka yang ndak bawa kamera tapi berlagak seperti manajer tukang foto itu tadi! Pindah pindah terus posisinya, lagak bos ajah kau bang!! Saya melihat kurangnya kesadaran mereka akan etika bagi fotografer. Saya bukan fotografer, saya bukan pula pemerhati fotografer apalagi pemerhati foto, namun saya yakin sekali bahwa dalam dunia fotografi harusnya ada tuh yang namanya etika fotografer. Sebagai manusia normal pasti akan terganggu jika pandangannya dihalangi, apalagi jika untuk dapat memandang itu kita harus membayar sejumlah uang. Lha wong orang nikahan aja kadang kita kesel kalo terlalu banyak tukang foto di depan, ini saya ndak bisa ngeliat atraksi Dewa Budjana gara-gara ada para tukang foto dan tripodnya ituh (ya! ya! dia membawa tripod juga!!!). Man, saya itu mbayar buat ngeliat para artis, kalo saya mau lihat punggung dan kepala ente saya cukup ke nikahan temen saya juga bisa. Tolong lah, kalo memang anda berniat untuk mengabadikan foto-foto para artis itu, daftarkan diri anda sebagai pers ato apalah, dan duduklah di tempat yang tidak mengganggu, seperti di balkon paling atas ujung. Jangan mengganggu kenikmatan kami dong. Mereka memang kemudian menjadi lebih “tenang”, namun saya menjadi kehilangan momennya. Lha mereka tenangnya ketika Trisum udah habis mainnya, digantikan oleh oom Idang dan kawan-kawan yang membuat saya juga “tenang” karena terlalu berat untuk dinikmati wekekekek …
Yah … saya ucapkan selamat deh untuk oknum di atas … kalian sukses membuat saya ndak bisa berkonsentrasi melihat penampilan para pemusik itu …
To all: menurut kalian salahkah saya jika nanti saya menghadapi keadaan seperti ini lagi (semoga tidak) dan saya melempar para fotografer itu dengan botol minuman?
PS: Mengenai penilaian saya terhadap music Jazz … keren dan berattttt dah …
Daily Blog, Ditulis dalam bahasa Indonesia, Ubuntu Talk
Recent Comments