Terkena Badai di UGM

November 8th, 2008

Hari ini UGM terkena badai yang luar biasa besar. Saya yakin sebagian besar anda sudah membaca dan menyaksikan beberapa kerusakan yang ditimbulkan. Tapi mungkin hanya kami-kami yang tidak sengaja berada di lingkungan bunderan UGM dan sekitarnya yang merasakan dengan benar-benar memuncaknya adrenalin kami melihat keadaan cuaca yang seperti itu.

Kantor saya kebetulan terletak di samping bunderan UGM. Dan pada saat itu saya kebetulan sedang berada di kantor, di sebuah ruangan yang memiliki kaca menghadap langsung ke bunderan. Awalnya, ketika hujan mulai turun,  spontan rekan saya membuka tirai dan kaca jendela untuk menikmati dingin dan sejuknya hujan. Well, dengan notebook di depan kami, kopi di samping, dan pemandangan hujan di sore hari, kami pikir ini akan menjadi hiburan tersendiri bagi kami … sejuk dan nikmat begitu mungkin yang ada di kepala kami.

Tidak disangka, beberapa menit kemudian keindahan alam itu berubah menjadi sebuah pemandangan yang mencekam. Bermula dari keanehan pada titik-titik air yang mulai menghantam kaca, dilanjutkan dengan miringnya posisi pohon di sebelah kantor yang sepertinya mulai berjuang melawan sekarat diterpa angin kencang, dan sampai pada titik dimana kami sadar bahwa kondisi sudah bukan ‘cara indah menikmati hujan melawan stress do sore hari’ lagi. Pohon yang berada di samping kantor akhirnya tumbang, diikuti dengan suara geretakan kaca. Kami yang ada di dalam ruangan itu hanya bisa bengong dan teriak-teriak aneh-aneh melihat kondisi tersebut. Kami melihat ke jalan … serem … jalan di depan kantor banjir besar, semua kendaraan berhenti (ndak tau dah bagaimana mencekamnya suasana di dalam kendaraan tersebut), melihat jauh sedikit ke arah bunderan adanya hanya pohon-pohon yang miring.

Oops … sadar kalau sudah tidak kondusif lagi (karena saya teringat pengalaman saya sekitar setahun yang lalu), kami segera mengepak notebook, membereskan meja dan menuju ke ruangan sebelah. Di situ anak-anak sudah ribut, suasana antara panik dan nikmat (harus saya akui, perubahan suasana dan ketegangan seperti ini sedikit menimbulkan rasa nikmat di kepala saya yang sudah cukup penuh dengan logika dan algoritma) terasa sekali di ruangan itu. Apalagi ditambah sebuah jendela di seberang ruangan yang tadinya terbuka mulai menerbangkan tirai, serta suara-suara gedebak-gedebuk di lantai atas kami, langsung dah semua pada mengepak barang dan menuju ke bawah (kami berada di lantai 2 saat itu).

Dan di sana pun kami menunggu badai sampai selesai … Untung tidak ada kerusakan sampai korban yang parah saat itu. Hanya rekan kami sempat tergelincir di tangga dan sedikit mengalami pendarahan (get well soon Bim). Setelah hujan mulai reda, saya dan beberapa rekan mulai mencoba menjadi sukarelawan memindahkan pohon yang tergeletak di tengah jalan. Lihat ke kiri dan ke kanan, sepertinya banyak kondisi serupa di UGM … sampai sini saya hanya bisa menebak-nebak kerusakan yang dialami berdasarkan kabar-kabar yang beredar dari orang-orang sekitar. Ada yang bilang ada mobil ketimpa pohon, baliho rusak, tiang miring, dan lain sebagainya …

Setelah pulang, saya sempatkan melewati kawasan UGM bersama pacar saya (yaiy, enaknya pacar sekantor, ndak perlu terlalu panik kalo ada kejadian kaya ginian, abis kejadian bisa ‘wisata’ bareng). Dan betapa kagetnya saya melihat kerusakan-kerusakan yang dialami oleh bangunan dan pohon-pohon di seputaran UGM sungguh sangat parah. Kondisi yang sedikit mirip ketika saya melihat kerusakan pasca gempa Jogja dulu itu. Wew, sungguh terlalu ini badai … ndak tanggung-tanggung, hampir semua pohon besar yang ada di UGM luluh lantak. Termasuk di dalamnya dua pohon besar di ujung-ujung selatan Grha Sabha roboh.

Kemudian banyak genteng gedung Purna Budaya hilang terbang entah ke mana. Paling parah (setidaknya bagi penikmat internet di UGM seperti saya ini) adalah patahnya tower radio PPTIK (semoga bisa segera pulih koneksinya … eh koneksi terganggu ndak sik kalau kaya gitu??).

Pertanyaan besar di kepala saya adalah … kenapa hanya wilayah UGM yang terkena angin badai ini? Saya tadi kaget ketika melihat kawasan utara Selokan Mataram tidak ada bekas-bekas angin sedikitpun, hal serupa juga ada di selatan Cik di Tiro … aneh … pacar saya berceletuk “apa ada yang dendam ya dengan UGM???”

Daily Blog, Ditulis dalam bahasa Indonesia, Ubuntu Talk

  1. November 8th, 2008 at 18:42 | #1

    Huuf,,emang tuh badai ngebuat orang kalang kabut..xixixii..
    Sampe2 listrik mati 2 hari…hikzz..
    Moga aja gak terjadi lagi,,,i hope these,, :)

  2. November 8th, 2008 at 20:11 | #2

    Ada yang gk rela klo Sultan jadi RI satu? :D

    Whoa, heboh banget pasti. Untunglah tidak ada korban ya. Untung aja lo pade gk lagi jalan2 di luar kayak setahun yang lalu :D

  3. November 11th, 2008 at 22:13 | #3

    ada kerjaan nih buat kamu, cek di blogku ya..PRnya dikerjain, ok?! ditunggu!

  1. November 13th, 2008 at 09:09 | #1